Birdby LogoBirdby
Murai Batu (Copsychus malabaricus)

Murai Batu

Hampir Terancam (Near Threatened) menurut IUCN, terutama karena penangkapan berlebihan untuk perdagangan burung peliharaan.

Copsychus malabaricus

Melihat burung? Identifikasi seketika dengan aplikasi Birdby

Buka aplikasi

Tentang

Murai Batu adalah burung pengicau berukuran sedang yang terkenal dengan kicauannya yang merdu dan ekornya yang panjang. Burung ini memiliki karakter yang kuat dengan perpaduan warna hitam, putih, dan sedikit oranye kemerahan. Penampilannya yang anggun dan suaranya yang indah menjadikannya salah satu burung peliharaan yang sangat populer di Asia Tenggara. Burung ini sering terlihat mencari makan di lantai hutan atau di semak-semak rendah.

Ukuran dan masa hidup

Panjang
23-28 cm (termasuk ekor yang panjang, jantan bisa mencapai 35 cm)
Bentang sayap
30-35 cm
Berat
28-42 g
Masa hidup
10-15 tahun di alam liar, hingga 20 tahun di penangkaran
Makanan
Omnivora, terutama serangga (jangkrik, belalang, semut, rayap), invertebrata lainnya, dan terkadang buah beri atau nektar.

Ciri fisik

Bulu
Jantan dewasa umumnya memiliki kepala, punggung, dan dada berwarna hitam mengilap. Bagian perut berwarna oranye kemerahan, dan bagian tunggir (pangkal ekor) berwarna putih mencolok. Ekornya sangat panjang, berwarna hitam dengan tepian putih pada bagian luar. Betina memiliki warna yang mirip tetapi lebih kusam, lebih abu-abu kehitaman daripada hitam mengilap, dengan warna oranye pada perut yang lebih pucat dan ekor yang lebih pendek.
Bentuk paruh
Ramping, runcing, dan sedikit melengkung ke bawah, berwarna hitam.
Warna mata
Cokelat tua.
Warna kaki
Abu-abu kehitaman sampai hitam.
Ciri pembeda
Tunggir putih mencolok, ekor panjang bergradasi pada jantan, warna hitam mengilap pada jantan, dan kicauan yang sangat bervariasi serta merdu.
Penampilan muda
Anakan memiliki bulu yang lebih kusam dan bercak-bercak cokelat. Bagian dada biasanya memiliki bintik-bintik gelap, terutama pada bagian yang nantinya akan menjadi oren. Ekor relatif lebih pendek dibandingkan dewasa.
Perubahan musiman
Tidak ada perubahan bulu musiman yang signifikan dalam hal warna atau pola, namun bulu dapat rontok (mabung) secara periodik.
Dimorfisme seksual
Sangat jelas. Jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar, ekor lebih panjang, warna hitam yang lebih pekat dan mengilap, serta warna oranye kemerahan yang lebih cerah. Betina lebih kecil, ekor lebih pendek, warna lebih kusam, dan oranye lebih pucat.

Cara identifikasi

  1. 1

    Ekor Panjang

    Jantan memiliki ekor yang sangat panjang dan bertingkat, seringkali diangkat saat bertengger atau bertarung.

  2. 2

    Tunggir Putih

    Ciri khas yang paling mudah dikenali adalah bercak putih mencolok di bagian tunggir, tepat di atas pangkal ekor.

  3. 3

    Warna Plumage

    Jantan hitam mengilap dengan perut oranye kemerahan. Betina lebih kusam, tetapi pola warna dasar tetap serupa.

  4. 4

    Kicauan Merdu

    Suara kicauannya sangat khas: panjang, bervariasi, melodis, dan sering meniru suara burung lain.

  5. 5

    Perilaku

    Sering terlihat di permukaan tanah atau vegetasi rendah, melompat-lompat mencari serangga dengan ekor yang sering diangkat.

Habitat dan persebaran

Bioma
Hutan subtropis atau tropis lembab dataran rendah dan hutan pegunungan lembab.
Persebaran geografis
Asia Selatan dan Tenggara, termasuk India, Nepal, Bangladesh, Bhutan, Myanmar, Tiongkok bagian selatan, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan).
Rentang ketinggian
Biasanya dari permukaan laut hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, terkadang lebih tinggi di beberapa wilayah.
Lingkungan yang disukai
Sering ditemukan di hutan sekunder, pinggir hutan, perkebunan karet, kebun pedesaan, dan semak belukar yang lebat, terutama di dekat aliran air.

Perilaku

Waktu aktivitas
Diurnal, paling aktif di pagi hari dan sore hari.
Kebiasaan makan
Mencari makan terutama di lantai hutan atau di vegetasi rendah. Mereka melompat-lompat di antara semak-semak, membalik dedaunan atau serasah untuk mencari serangga. Terkadang juga menangkap serangga kecil di udara.
Perilaku sosial
Umumnya soliter atau berpasangan. Sangat teritorial, terutama selama musim kawin.
Pola terbang
Terbang dengan cepat dan lincah di antara pepohonan atau semak-semak, seringkali dengan kepakan sayap yang berdesir. Ketika terbang jarak jauh, terlihat bergelombang.
Pola migrasi
Non-migratori. Mereka adalah burung penetap di seluruh wilayah jelajahnya.
Teritorialitas
Sangat teritorial, terutama jantan. Mereka akan mempertahankan wilayahnya dari penyusup dengan kicauan dan terkadang agresi fisik. Pertarungan memperebutkan betina atau wilayah sering terjadi antar pejantan.

Kicauan dan suara

Kicauan
Kicauannya adalah salah satu yang termerdu di dunia burung. Sangat bervariasi, melodis, dengan siulan yang jernih, nada bersambung, getaran, dan sering meniru suara burung lain. Burung ini mampu menghasilkan melodi yang kompleks.
Panggilan
Panggilan alarm berupa 'tsit-tsit' atau 'chak-chak' yang tajam dan berulang. Juga dapat mengeluarkan panggilan lunak saat berkomunikasi dengan pasangannya.
Kapan bersuara
Paling sering berkicau saat fajar dan senja, serta sepanjang hari selama musim kawin atau saat mempertahankan wilayahnya.

Reproduksi

Musim kawin
Bervariasi di setiap wilayah, umumnya dari Maret hingga Juli.
Kebiasaan bersarang
Membuat sarang di celah-celah pohon, lubang di pohon tumbang, di antara akar pohon, atau di celah-celah batu. Sarangnya berbentuk cangkir yang terbuat dari akar-akar kecil, daun, serat tanaman, dan lumut, dilapisi dengan serat halus.
Jumlah telur
3-5 telur.
Deskripsi telur
Telur biasanya berwarna biru kehijauan pucat hingga krem dengan bintik-bintik cokelat kemerahan atau ungu yang menyebar.
Masa inkubasi
12-15 hari, terutama oleh betina.
Masa terbang
Anakan meninggalkan sarang sekitar 12-14 hari setelah menetas.
Perawatan orang tua
Kedua induk memberi makan anakan, meskipun betina lebih dominan dalam pengeraman dan perawatan awal. Jantan membantu dalam melindungi sarang dan mencari makan.

Di mana ditemukan

Hutan Primer dan Sekunder

Cari di area hutan dengan vegetasi rapat dan semak-semak lebat, terutama di dataran rendah.

Tepi Hutan

Mereka sering terlihat di perbatasan antara hutan dan lahan terbuka, atau di sepanjang jalan setapak di dalam hutan.

Perkebunan Karet/Kopi

Di Asia Tenggara, mereka banyak ditemukan di perkebunan yang memiliki pohon rindang dan relatif sepi.

Taman dan Kebun Besar

Kadang-kadang dapat ditemukan di taman-taman besar atau kebun yang tidak terlalu terganggu dengan banyak semak dan pohon.

Tips lapangan

  1. Dengarkan Kicauannya. Terkadang lebih mudah mengenali Murai Batu dari suaranya yang khas sebelum melihatnya. Perhatikan kicauan yang melodis dan bervariasi.
  2. Cari di Vegetasi Rendah. Mereka sering mencari makan di lantai hutan atau di semak-semak rendah. Perhatikan gerakan melompat-lompat dan membalik dedaunan.
  3. Gunakan Teropong. Untuk melihat detail ekor dan tunggir putih yang khas, teropong sangat membantu karena mereka bisa sangat lincah dan bersembunyi.
  4. Kunjungi Pagi atau Sore Hari. Murai Batu paling aktif berkicau dan mencari makan pada jam-jam ini.
  5. Bersabar dan Tenang. Mereka bisa pemalu. Dekati area habitatnya dengan tenang dan bersabar untuk pengamatan terbaik.

Spesies serupa

Kucica Hutan

Copsychus saularis

Murai Batu memiliki ekor yang jauh lebih panjang dan pola warna putih pada tunggirnya yang mencolok. Kucica Hutan memiliki bagian perut berwarna putih kehitaman atau abu-abu, bukan oranye kemerahan seperti Murai Batu, dan pola putih pada sayap yang berbeda.

Kucica Kampung

Copsychus saularis adscitus

Subspesies Kucica Hutan yang memiliki perbedaan pola putih di sayap dan ukuran ekor yang lebih pendek dibandingkan Murai Batu. Warna hitam pada Kucica Kampung lebih kehitaman dibandingkan abu-abu pada betina Murai Batu.

Fakta singkat

Status Konservasi:
Hampir Terancam
Tipe Makanan:
Omnivora (terutama serangga)
Habitat Utama:
Hutan dataran rendah dan perbukitan
Ciri Khas Paling Menonjol:
Ekor sangat panjang dan tunggir putih
Kicauan:
Termerdu, sangat bervariasi, meniru suara lain
Perdagangan:
Sangat populer sebagai burung peliharaan, menyebabkan penurunan populasi liar

Fakta menarik

  • Murai Batu adalah salah satu burung pengicau paling populer dan dicari di Asia Tenggara karena kemampuan kicauannya yang luar biasa.
  • Mereka dikenal sebagai 'ratu peniru' karena sering meniru kicauan burung lain, bahkan suara-suara di lingkungan sekitarnya.
  • Ekor panjang jantan Murai Batu dapat menjadi penentu status dalam hierarki sosial dan daya tarik bagi betina.
  • Meskipun populer dipelihara, perdagangan ilegal telah menyebabkan penurunan drastis populasi di alam liar, mendorong status konservasinya menjadi 'Hampir Terancam'.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Aves
Ordo
Passeriformes
Famili
Muscicapidae
Genus
Copsychus
Spesies
Copsychus malabaricus

Jelajahi Murai Batu

Identifikasi burung di mana saja

Gratis di iOS, Android, dan Web. Identifikasi foto & suara, database spesies lengkap, dan daftar pribadi Anda.

Buka di aplikasi