Birdby LogoBirdby
Perkutut Jawa (Spilopelia chinensis)

Perkutut Jawa

Least Concern

Spilopelia chinensis

Melihat burung? Identifikasi seketika dengan aplikasi Birdby

Buka aplikasi

Tentang

Perkutut Jawa, juga dikenal sebagai Spotted Dove, adalah spesies merpati berukuran sedang yang tersebar luas di Asia dan telah diperkenalkan ke berbagai belahan dunia. Burung ini dikenal dengan pola bintik-bintik khas di lehernya dan suaranya yang merdu. Mereka adalah burung yang mudah beradaptasi dan sering ditemukan di lingkungan perkotaan maupun pedesaan.

Ukuran dan masa hidup

Panjang
28-32 cm
Bentang sayap
43-48 cm
Berat
100-180 g
Masa hidup
5-10 tahun di alam liar, hingga 15 tahun di penangkaran
Makanan
Granivora (pemakan biji-bijian), juga memakan tunas, buah-buahan kecil, dan serangga kecil

Ciri fisik

Bulu
Bagian atas tubuh berwarna coklat keabu-abuan, bagian bawah berwarna merah muda keunguan yang memudar menjadi putih di perut. Ciri khasnya adalah bercak hitam dengan bintik-bintik putih di sisi leher dan tengkuk. Bulu ekor terluar memiliki ujung putih yang terlihat jelas saat terbang.
Bentuk paruh
Ramping, berwarna abu-abu kehitaman dengan pangkal kemerahan.
Warna mata
Coklat kemerahan dengan cincin orbital merah muda
Warna kaki
Merah keunguan
Ciri pembeda
Bercak hitam berbintik putih di sisi leher adalah ciri paling khas. Ekor panjang dengan ujung putih pada bulu terluar juga merupakan penanda penting.
Penampilan muda
Burung muda memiliki warna yang lebih kusam dan bercak bintik di leher kurang jelas atau belum terbentuk sempurna. Warna merah muda di bagian bawah tubuh juga kurang intens.
Perubahan musiman
Tidak ada perubahan bulu musiman yang signifikan. Penampilan tetap konsisten sepanjang tahun.
Dimorfisme seksual
Jantan dan betina memiliki penampilan yang sangat mirip, sulit dibedakan secara visual di lapangan. Jantan mungkin sedikit lebih besar dan memiliki warna yang sedikit lebih cerah, tetapi ini tidak konsisten.

Cara identifikasi

  1. 1

    Bercak Leher

    Cari bercak hitam dengan bintik-bintik putih yang khas di sisi leher dan tengkuk. Ini adalah penanda paling jelas.

  2. 2

    Warna Bulu

    Perhatikan warna coklat keabu-abuan di bagian atas dan merah muda keunguan di bagian bawah yang memudar ke putih di perut.

  3. 3

    Ekor

    Saat terbang atau bertengger, perhatikan ekornya yang panjang dengan ujung putih pada bulu terluar.

  4. 4

    Suara

    Dengarkan panggilan 'kru-kru-kru-kru' yang lembut dan berulang. Ini seringkali menjadi cara pertama untuk mendeteksi keberadaan mereka.

  5. 5

    Perilaku

    Mereka sering mencari makan di tanah di area terbuka, seperti taman atau tepi jalan.

Habitat dan persebaran

Bioma
Hutan terbuka, semak belukar, lahan pertanian, taman, kebun, area perkotaan dan pinggiran kota.
Persebaran geografis
Asli di Asia Selatan dan Tenggara (India, Sri Lanka, Tiongkok selatan, Asia Tenggara termasuk Indonesia). Diperkenalkan ke Australia, Selandia Baru, Fiji, Hawaii, dan California (AS).
Rentang ketinggian
Dari permukaan laut hingga sekitar 2000 meter.
Lingkungan yang disukai
Sangat adaptif, menyukai area yang memiliki campuran vegetasi terbuka untuk mencari makan dan pepohonan atau semak belukar untuk bertengger dan bersarang. Sering ditemukan di dekat pemukiman manusia.

Perilaku

Waktu aktivitas
Diurnal (aktif di siang hari).
Kebiasaan makan
Mencari makan di tanah, mematuk biji-bijian, tunas, dan buah-buahan kecil. Kadang-kadang memakan serangga kecil. Mereka sering terlihat mencari makan di tepi jalan, taman, dan lahan pertanian.
Perilaku sosial
Biasanya terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil. Di area dengan sumber makanan melimpah, dapat berkumpul dalam kelompok yang lebih besar. Cukup jinak di dekat manusia.
Pola terbang
Terbang lurus dan cepat dengan kepakan sayap yang kuat dan teratur. Saat lepas landas, seringkali mengeluarkan suara kepakan sayap yang keras. Meluncur sesekali.
Pola migrasi
Burung penetap (residen) di sebagian besar wilayah jelajahnya, tidak melakukan migrasi jarak jauh. Namun, populasi yang diperkenalkan dapat menyebar secara lokal.
Teritorialitas
Jantan akan mempertahankan wilayah sarang dan sumber makanan dari perkutut lain, terutama selama musim kawin, dengan panggilan dan postur tubuh.

Kicauan dan suara

Kicauan
Panggilan khasnya adalah suara 'kru-kru-kru-kru' yang lembut dan berulang, seringkali dengan penekanan pada suku kata kedua. Juga dapat mengeluarkan suara 'coo-coo-croo' yang menenangkan. Panggilan ini sering digunakan untuk menarik pasangan atau menandai wilayah.
Panggilan
Selain panggilan kawin, mereka juga memiliki panggilan alarm berupa 'krr-krr' yang lebih tajam saat merasa terancam. Saat terbang, kepakan sayapnya sering terdengar.
Kapan bersuara
Paling sering terdengar di pagi hari dan sore hari, terutama selama musim kawin. Namun, dapat memanggil kapan saja sepanjang hari.

Reproduksi

Musim kawin
Sepanjang tahun di daerah tropis, dengan puncak aktivitas selama musim kemarau atau setelah hujan. Di daerah subtropis, biasanya musim semi hingga musim panas.
Kebiasaan bersarang
Membangun sarang yang sederhana dan tipis dari ranting-ranting kecil, seringkali di pohon atau semak belukar, kadang-kadang di struktur buatan manusia seperti atap atau tiang. Sarang seringkali terlihat rapuh.
Jumlah telur
2 telur
Deskripsi telur
Biasanya dua telur berwarna putih bersih, berbentuk oval.
Masa inkubasi
Sekitar 13-15 hari
Masa terbang
Anak burung meninggalkan sarang (fledge) sekitar 10-14 hari setelah menetas.
Perawatan orang tua
Kedua induk mengerami telur dan merawat anak burung. Mereka memberi makan anak burung dengan 'susu tembolok' (crop milk) yang kaya nutrisi.

Di mana ditemukan

Taman dan Kebun

Sering ditemukan di taman kota, kebun rumah, dan area hijau lainnya di perkotaan dan pinggiran kota.

Lahan Pertanian

Sering terlihat di lahan pertanian yang ditanami biji-bijian atau di dekat lumbung.

Tepi Jalan dan Area Terbuka

Mencari makan di tepi jalan, lapangan terbuka, dan area dengan vegetasi rendah.

Hutan Terbuka dan Semak Belukar

Juga ditemukan di habitat alami seperti hutan terbuka dan semak belukar.

Tips lapangan

  1. Dengarkan Panggilan. Panggilan khasnya seringkali lebih mudah didengar daripada melihat burungnya, terutama di area bervegetasi lebat.
  2. Cari di Tanah. Mereka adalah pemakan biji-bijian yang mencari makan di tanah, jadi perhatikan area terbuka di bawah pohon atau semak.
  3. Waktu Terbaik. Pagi hari dan sore hari adalah waktu terbaik untuk mengamati mereka saat mereka paling aktif mencari makan.
  4. Perhatikan Gerakan. Meskipun warnanya agak kusam, gerakan mereka saat berjalan di tanah atau terbang dapat menarik perhatian.

Spesies serupa

Tekukur Biasa

Streptopelia tranquebarica

Tekukur Biasa memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil, warna bulu yang lebih seragam (seringkali abu-abu kemerahan), dan tidak memiliki bercak bintik di leher. Cincin hitam di leher Tekukur Biasa lebih solid tanpa bintik putih.

Merpati Karang

Columba livia

Merpati Karang (Rock Dove/Feral Pigeon) jauh lebih besar, memiliki variasi warna yang sangat luas, dan tidak memiliki bercak bintik di leher. Pola sayap Merpati Karang biasanya memiliki dua garis hitam.

Perkutut Biasa

Geopelia striata

Perkutut Biasa (Zebra Dove) jauh lebih kecil, memiliki garis-garis hitam putih di leher dan dada, bukan bintik-bintik. Ekornya juga lebih pendek dan tidak memiliki ujung putih yang mencolok.

Fakta singkat

Nama Umum:
Perkutut Jawa, Spotted Dove
Nama Ilmiah:
Spilopelia chinensis
Ukuran:
Sedang (28-32 cm)
Ciri Khas:
Bercak bintik hitam putih di leher
Habitat:
Taman, kebun, lahan pertanian, hutan terbuka
Diet:
Biji-bijian
Status Konservasi:
Least Concern

Fakta menarik

  • Perkutut Jawa adalah salah satu burung yang paling sering dipelihara sebagai burung kicau di beberapa negara Asia karena suaranya yang merdu.
  • Meskipun namanya 'Spotted Dove', pola bintik-bintik di lehernya sebenarnya adalah bulu-bulu kecil yang membentuk pola unik, bukan bintik pada kulit.
  • Mereka sangat adaptif dan telah berhasil berkolonisasi di banyak wilayah di luar jangkauan aslinya, seringkali bersaing dengan spesies merpati lokal.
  • Seperti merpati lainnya, mereka menghasilkan 'susu tembolok' untuk memberi makan anak-anaknya, yang merupakan sekresi kaya protein dan lemak dari lapisan tembolok induk.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Aves
Ordo
Columbiformes
Famili
Columbidae
Genus
Spilopelia
Spesies
Spilopelia chinensis

Jelajahi Perkutut Jawa

Identifikasi burung di mana saja

Gratis di iOS, Android, dan Web. Identifikasi foto & suara, database spesies lengkap, dan daftar pribadi Anda.

Buka di aplikasi